Kamis, 18 Mei 2017

Do I love my job?



Do I love my job?
Pekerjaan saya boleh dibilang lumayan prestisius. Saya seorang finance dan juga human resources di perusahaan ekspor di Kota Tegal. Artinya saya bekerja di kampung saya sendiri, tanah kelahiran yang telah bertahun tahun saya tinggalkan. Posisi saya oke, tidak ada yang mengintervensi. Saya hanya bertanggung jawab langsung pada satu pimpinan, BOSS BESAR.
Tapi sejak awal saya sudah sadar dan melihat prediksi seperti apa karir saya di perusahaan ini. Saya bergabung di perusahaan ini semenjak perusahaan ini belum memiliki pabrik seperti sekarang. Saat itu baru ada boss dan satu sahabatnya yang menghendle urusan ekspor. Empat bulan sebelum saya masuk, ada saudara boss yang bergabung dan menghendle urusan produksi. Untuk urusan administrasi dan sebagainya belum ada yang menghendle. Boss mencari orang yang menghendle semua itu. Dia menetapkan kriteria orang tersebut harus diploma atau sarjana ekonomi dan mampu berbahasa Inggris minimal pasif. Saya melamar, dan saya diterima. So, seperti yang boss bilang, berarti saya salah satu the first staff di Omyra Global Resources.
Sebagai staf administrasi/umum, job description saya banyak. Saya mengurusi data perusahaan, menyiapkan ini itu, membuat ini itu, mencatat ini itu, menginput, mengarsipkan, melaporkan, membalas email-email calon buyer, mengirim sample product untuk mereka, menghitung gaji karyawan, pajak, membayar tagihan, kesana kesitu, mencari ini itu, dan tugas – tugas apapun lain yang diberikan oleh boss. Dan setelah Omyra punya pabrik sendiri, pekerjaan saya bertambah ke bidang personalia juga. Menerima lamaran dan mengidentifikasi pelamar kerja, memanggil dan menginterview mereka. Intinya saya ini adalah gabungan dari beberapa tugas seorang general affair, secretary, assistant, finance and tax, human resources, purchasing, marketing. Tapi untuk yang marketing mungkin sekarang bisa dicoret karena semenjak tidak renewal sebagai gold member di situs alibaba.com saya sudah tidak pernah promosi produk lagi dan sudah jarang membalas email dari calon buyer. Paling hanya sesekali jika ada yang mengontak via webmail.

Do I love my job?
Pekerjaan saya banyak, saya sering sibuk sendiri, pulang kesorean. Tapi saya masih bisa download film secara gratis sebanyak-banyaknya. Secara saya suka nonton film, maka saya bisa jadi bakul downloadan sesukanya. Dan sebagai pecinta musik, saya bisa mendengarkan musik sepanjang waktu selama bekerja.

Do I love my job?
Posisi saya nyaman. Yang lain panas-panasan, kotor-kotoran kena arang - saya bersih, ruangan saya ber AC. Yang lain gajiannya mingguan, tidak masuk kerja tidak dapat bayaran - gaji saya tetap bulanan, tidak terpengaruh jumlah tanggal merah. Tapi saya kesepian. Mayoritas pekerja adalah karyawan harian yang kesibukannya di area produksi di lantai dasar. Di lantai dua hanya ada segelintir orang. Hanya ada ruangan boss, ruangan staff yang isinya beberapa orang yaitu saya, manager ekspor dan manager produksi. Tapi meja manager produksi sudah pasti sering kosong karena yang bersangkutan lebih sering berada di area produksi di bawah. Dan tahukan kamu? Kesepian itu penyakit yang mematikan, yang bisa bikin baper mendalam. Dua tahun lebih saya bekerja di sini. Satu “teman” pun saya tidak punya. Teman yang saya maksudkan di sini yaitu teman sehari-hari, teman main, semacam waktu kita sekolah atau kuliah, yang setelah beraktifitas pulangnya kita bisa maen kemana, hangout, makan, main ke rumah, ngobrol layaknya sahabat. Saya tidak punya itu. Kehidupan kerja beda. Rekan kerja banyak, tapi teman untuk keseharian, untuk personal? (tanda tanya) ada gak ya?. Mungkin akan lain cerita kalau saya adalah karyawan harian di bagian produksi seperti mereka, mungkin kita akan akrab dan sering ganti-gantian mengunjungi rumah masing-masing. Ngobrol asik tanpa canggung. Padahal mereka semua baik, ramah, asik.  Saya juga mau bergaul dengan siapa saja. Sayangnya  aktifitas kita beda. Kerjaan saya lebih banyak di lantai atas. Pertemanan akan muncul kalau ada konektifitas atau kesamaan rutinitas. So jangan heran kalau tadi saya mengatakan tidak punya teman. Untungnya di lantai tempat saya bekerja masih ada 1 manusia lagi selain boss. Jadi pita suara saya gak karatan karena jarang digunakan. Masih ada mahluk hidup  yang bisa diajak ngobrol yaitu manager ekspor.

Do I love my job?
Sungguh aslinya saya bosan, tapi saya sangat bersyukur atas apa yang sudah saya dapatkan.

Do I love my job?
Pekerjaan di meja kadang menjadi hal yang sangat tidak keren bagi saya. Kaku. Tidak seperti pekerjaan lapangan yang dinamis. Tapi bukankah pekerjaan ini adalah hasil dari semua yang sudah saya lakukan dan persiapkan. Saya sekolah mengambil jurusan akuntansi, kuliah ekonomi, manajemen keuangan, sekarang saya mengurusi finance perusahaan. Saya suka ilmu tentang spikologi, ternyata saya terlibat urusan human resources, saya belajar bahasa inggris di berbagai lembaga dan daerah ternyata ada gunanya. Saya berinteraksi dengan orang-orang di berbagai negara. Worth it, dong ya?

Do I love my job?
Saya menyesal saat melewatkan kesempatan untuk melamar di sebuah bidang yang saya minati bulan Maret kemarin. Padahal itu kesempatan terakhir. Saya lebih memilih untuk loyal di perusahaan ini.

Do I love my job?
Awal-awal kerja di Omyra saya pernah mendapat panggilan kerja di tempat lain, namun saya abaikan. Saya pernah diiming-imingi melanjutkan kuliah S2 sambil terus melanjutkan bisnis dagang oleh mantan boss saya, itupun dengan mantap saya abaikan. Tapi sekitar 2 bulan lalu saya pernah mencoba mencari peluang di perusahaan lain. Tapi saat ini stagnan, tidak ada tindakan lanjutan. Saya kembali bertahan.

Do I love my job?
Saya suka nonton film, meskipun film keluaran lama saya tonton lagi. Film The Intern membuat saya iri terhadap suasana kantornya. Saya suka yang seperti itu, bukan yang seperti saya ini. Film The Devil Wears Prada memberikan saya gambaran bagaimana menjadi orang yang professional dan berdedikasi penuh pada pekerjaan. Rilm ini mengambil sudut yang berbeda sehingga kita tidak serta-merta menjudge seseorang itu workaholic. Tapi di akhir film, saya melihat bagaimana si tokoh karyawan ini akhirnya menentukan pilihan. Meskipun karriernya gemilang tapi dia memutuskan untuk meninggalkan perusahaan yang bonafid itu karena dia memiliki passion lain. Kedua film ini mengiring saya pada pelajaran untuk proffessional tapi sekaliagus menggiring saya pada pertanyaan “do I love my job?” dan apakah saya mempunyai passion lain?

Do I love my job?
Saya membuat sebuah analogi.
Ibaratnya saya ini sedang mendaki gunung, lalu saya sampai pada sebuah shelter dan saya berhenti di shelter tersebut. Omyra Global Reseorces, perusahaan ini ibarat sebuah shelter yang saya temukan dalam pendakian. Jujur, pendakian saya sangat melelahkan dan berat. Untuk sampai di shelter ini banyak rintangan dan hambatan yang saya lalui. Di shelter ini nyaman, aman dan lapang. Saya bisa istirahat dan mendirikan tenda atau bivak. Tapi saya sadar ini bukan puncak, ini hanya shelter. Pertanyaannya apakah saya akan puas berada cukup di shelter saja? Lamban laun kenyamanan di shelter ini bisa berkurang, saya bisa kehabisan bekal, atau saya bisa bosan dengan pemandangannya. Sementara bisa jadi ada pendaki-pendaki lain bermunculan menyusul dan melampaui saya.
Ada dua tindakan yang menjadi pilihan. Pertama, tetap tinggal di shelter. Jika tetap di shelter, saya akan survive mempertahankan kenyamanan di sini, berkoloni, berhabitat, menghadapi apapun yang terjadi. Atau meskipun tidak ada koloni, saya tetap berhabitat di sini karena sudah merasa berada di rumah sendiri sehingga memilih untuk tetap tinggal sampai akhir hayat. Biarkan pendaki lain berseliweran naik turun ke puncak atau mencari tempat, saya sudah menemukan tempat.
Pilihan kedua adalah melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Jika melanjutkan perjalanan, saya tidak tahu ke puncak seberapa jauhnya, bagaimana tracking nya. Tapi kalau mau pemandangan yang lebih bagus, view yang lebih luas, lebih tinggi, ilmu yang lebih panyak, saya memang harus melanjutkan perjalanan ke arah puncak. 

Do I love my job?
Sekarang saya sedang berada di shelter. Saya tidak tahu sampai kapan. Saya merasa kenyamanan ini pasti perlahan lahan berkurang. 

Do I love my job?

Dengan mantap saya jawab : "Yes, I do". Saya mencintai pekerjaan saya. Saya mensyukuri atas apa yang sudah saya dapatkan. Saya sangaaattt menikmati kesibukan saja. Saya sangat enjoy kerja sambil ngeteh, nyusu, atau ngopi, sambil selalu mendengarkan musik. This is the best part of my life. Saya selalu sepenuh hati dalam bekerja.
Tapi, I love the others job too. Jadi saya tidak tahu sampai kapan saya akan bertahan. 

"There is no guarantee that this life is easy, but I AM HAPPY"

Jumat, 05 Mei 2017

Diam - Diam Balas Dendam





Apa korelasinya antara gak bisa tidur dan setrika?

Kalau pengalaman pribadi saya sih ada.


Sodara-sodara... sebenarnya ini cerita lama, tapi keinginan menggambar muncul gak pandang waktu dan usia. Barangkali ini efek dari beberapa kolaborasi keadaan: mendengarkan lalu Banda Neira yang sudah bubar, rumah sedang sepi, kangen teman kuliah, hp gak ada, dan yang paling parah adalah sedang berkurangnya teman untuk bercerita. Maka pada kesempatan kali ini saya ingin membuat gambar yang memiliki cerita.


Ini cerita saya :

Di balik tampang yang [penginnya] soleha ini, saya juga meyimpan kejahilan. Dan kisah setrika adalah salah satu kejahilan yang secara sadar saya lakukan.

Jaman dulu (Juni 2009) saya pernah ngekos di sebuah kosan yang bernama Pondok Al Barokah, pondok yang rada busuk tapi lumayan staregis dan paling murah. Tinggal sekitar setahunan di sana, lalu saya pindah. Setelah menclak-menclok pindah kos-kosan demi menunjang kuliah, setelah lulus empat tahun kemudian dengan apesnya saya harus kembali lagi ke Pondok Al Barokah. Sialnya keadaan Al Barokah makin parah dan penghuninya berubah. Dari yang dulunya banyak mahasiswa berubah jadi sepenuhnya orang-orang yang kerja di mall. Otomatis kebiasaan mereka berbeda. Macam kelelawar, kalau pagi terasa sunyi sedangkan malam dianggap siang.

Situasi saat itu bener-bener gak ada enaknya. Kalau malam... aduh berisiknya. Nyetel musik gak tau waktu. Pake soundsystem gede. Kaya orang jualan kaset, nyetelnya karepe dewek. Jam 1 malam, kencengnya kayak orang gila gudeman. Asli... saya ini juga suka musik, bahkan sulit tidur kalau gak dengerin musik. Tapi yo gak gini-gini amat kencengnya. Kalau penghuni yang dulu walaupun mereka sering begadang sambil nyetel musik sampai pagi, musiknya mereka itu tenang, volumenya pas gak berlebihan jadi sama sekali gak mengganggu. Kalau penghuni yang ini musiknya kayak orang hajatan. Jedar jeder jedag jedug gak karuan.

Nah karena saya merasa sering keberisikan, bisikan setan pun datang. Saya tahu kalau pondok Al Barokah ini dari dulu miskin daya listrik, jadi pas musik lagi berisik, diam-diam saya nyolokin setrikaan di kamar. Petttt! Seketika listrik langsung padam. Hahaha.... mereka pun kelimpungan. Cabut colokan sana sini  lalu ngajegleg meteran listrik biar hidup lagi.

Dan jurus nyolokin setrikaan menjadi andalan saya untuk balas dendam ke mereka. Kalau mereka keterlaluan berisiknya saya colokin lagi tuh setrika. Matilah. Hahaha...

Itulah kawan... cerita lawas yang terjadi di akhir tahun 2013. Sekarang saya gak perlu melakukan jurus setrika lagi karena sekarang saya sudah tinggal adem ayem di rumah sendiri.

Jumat, 07 April 2017

TOLONG...TOLONG...



Kamis, 6 April 2017
Jalan raya Pantura, Martoloyo, Panggung Timur, Kota Tegal.
Siang bolong, saya nangkring kebingungan di atas motor. Cekekek cekekek...berkali kali menghidupkan starter motor hasilnya nol. Mogok rupanya. Lalu saya bertanya pada tukang kerupuk yang lagi sibuk, : 
“Pak, yang jual bensin terdekat dimana?”. 

Motor saya kehabisan bensin. Kok bisa ya? Bawa motor, bensin kosong? Nanti deh saya cerita.
Si tukang kerupuk menunjukkan arah lurus ke barat terus nanti di belakang pos polisi belok ke kanan (utara). Kami berinteraksi. Macam tawar menawar, saya inginnya ke kiri. 
 “Kalau yang belok ke kiri aja gak ada pak?”
Saya nih aneh, nanya bensin dimana, sudah dijawab di sana kok malah maunya bensin di tempat lain. Saya malas belok kanan. Ya iyalah...malas. Secara ini jalur pantura, besaaarrr.... banyak kendaraan. Kalau belok ke kanan ke Jalan Flores berarti saya harus melewati perempatan lampu merah, yang untuk pejalan kaki saja susah nyebrangnya, apalagi saya yang nuntun kuda besi. Bakal diklakson-klakson bus dan container nanti. Belum lagi, letak bensin yang agak jauh masuk ke dalam di Jalan Flores.
“Ada sih, di depan pasar” 

Saya masih ragu juga, saya balik nangkring di atas motor, celingak-celinguk, berkali kali ngengok ke belakang, buka jok motor, buka tutup bensin, tutup lagi, distrarter lagi, cekekek-cekekek lagi, celingak-celinguk lagi. Haduuuhhh.... motor kehabisan bensin koq dipaksa? Dorong dong sana.
Kenapa saya ragu dan gak langsung pergi belok ke kiri? Karena saya sudah kenal daerah sini. Bensin di depan pasar itu gak ada. Atau mungkin ada tapi kadang gak jualan. Saya tanya ke orang untuk memastikan saja, mana tau ada tukang bensin yang lagi ngasoh di warung-warung makan di tepi-tepi jalan ini. Dan sebenarnya tujuan saya adalah mau lurus ke barat. Ke Jalan Yos Sudarso, ke Kantor Pos Pusat. Karena tadi bos saya menelfon dan menyuruh saya harus segera ke kantor pos sekarang juga. Ada dokumen yang perlu ditandatangani.

Readers, mari saya selingi sedikit informasi untuk pengetahuan kita. Saya bekerja di sebuah perusahaan export sudah lebih dari dua tahun. Sudah puluhan kali saya mengirim sample produk ke luar negeri via EMS. Barang yang saya kirim berupa coconut shell charcoal dianggap dangerous good, atau spontaneously combustible (mudah terbakar dengan sendirinya). Aslinya sih charcoal atau barang sejenisnya tidak akan terbakar sendiri kalau tidak disulut api. Singkatnya, pengiriman jenis charcoal ada prosedurnya. Saya sudah melengkapi prosedur itu sesuai peraturan yang ditetapkan, contohnya seperti melampirkan MSDS (Material Safety Data Sheet). Tapi setiap petugasnya ganti, biasanya saya menemui kendala. Kemarin sore saya mengirimkan sample produk ke Bahrain dan Iran. Tadi saya ditelfon katanya untuk pengiriman barang ke Iran saya harus menandatangani semacam letter of declarations yang menyatakan bahwa barang tersebut tidak berbahaya, namun apabila negara yang dituju menolak menerima barang tersebut maka saya harus nyatakan kesanggupan bahwa barang tersebut dilepaskan/dimusnahkan atau dikembalikan ke pengirim namun biaya ditanggung sendiri. Hadeehh... padahal saya sudah berkali kali kirim sample ke Iran. Kadang disuruh tanda tangan LD, kadang gak. Tergantung petugasnya lagi khilaf atau kagak. 

Balik lagi ke soal motor, itulah sebabnya saya sampai kehabisan bensin. Saya terburu-buru ke kantor pos mengejar waktu. Takutnya bentar lagi jam 12 siang barangkali mereka istirahat, dan saya harus menunggu satu jam lagi sampai petugasnya ready. Saya tahu, pagi tadi bensin motor saya tinggal sedikit, saya pikir cukup nanti sepulang kerja saja isi bensinnya. Ternyata saya salah prediksi karena tadi sebelum saya pergi, motor saya sempat dipinjam orang pabrik untuk beli perlengkapan. Motor saya sudah jadi motor sejuta umat. Di tempat kerja, ataupun di rumah, sering dipakai siapa saja. Jadi, isi bensin kadang luput dari perhatian saya. Suka lupa. Tapi bukan karena lupa dan kurang perhatian ke motor aja ding, kadang-kadang kalau lagi bokek, urusan isi tangki gak bisa dipenuhi.Hihi...
Akhirnya motor itu saya tuntun. Secara nuntun motor di jalan pantura, maka jadi nontonan lah saya. Apalagi pas nyampe perempatan lampu merah, yang lain berhenti keren macam Dani Pedrosa, saya berhenti samping motor macam atlet menuntun kuda. 

Dari perempatan, saya belok kiri (selatan) ke arah Pasar Martoloyo. Jalannya ngoyo karena ada sedikit turunan, jadi saya perlu menjaga keseimbangan, antara kecepatan kaki dan kekuatan mengendalikan rem tangan. Saya strong kan?
Pasar Martoloyo, sampah menumpuk di pinggir jalan. Apeslah saya, tukang bensin gak jualan. Gerobaknya sepi gak ada orang. Tuhan, plis... ini jauh dari pertamina, bensin eceran pun tak ada.  
Saya berhenti di depan pasar, di bawah pohon rindang, lalu mengedarkan pandangan mencoba mencari pertolongan. Ada bapak-bapak yang lagi duduk depan warteg sambil liatin saya. Motor saya kunci, lalu bapak-bapak itu saya hampiri.
Kami berdialog, lalu ada satu bapak lagi yang sepertinya pemilik warteg menghampiri. Mereka cuma menunjukkan letak penjual bensin dimana. Dalam hati, saya sudah tahu pak, kalau ke selatan letaknya agak jauh sekitar 400-500 meteran. Putar balik lagi ke arah kanan, ke belakang pos polisi bukan pilihan ideal.
Lalu saya menawarkan sebuah jaminan.
“Pak, iki motor tak tinggal, saya tolong dipinjemin sepeda atau apa supaya bisa beli bensin”.
Saya ingat, dulu ada saudara yang kepepet butuh uang untuk ambil hp yang dia jaminkan ke penjual bensin di daerah Mejasem. Katanya dia kehabisan bensin, gak bawa duit, tapi gak boleh ngutang, jadi sebagai jaminan hp nya dia tinggalkan di tukang bensin daerah Mejasem.
Guys... harga bensin seliter hanya sekitar 8000 rupiah, harga hp saudara saya walaupun hp biasa jelas di atas harga itu. Tapi di jaman sekarang, sebuah permintaan pertolonganpun butuh jaminan. Barangkali kita sudah semakin parno saja melihat contoh modus kejahatan yang tersiar di tipi-tipi, social media, atau kejadian yang menimpa di sekitar kita, jadi kewaspadaan itu perlu. Tapi saudara, sejujurnya saya prihatin. Seliter bensin dijaminkan dengan hp yang “hanya” seharga ratusan ribu atau motor Honda yang “hanya” belasan juta.
Nasib baik belum menghampiri saya. Si bapak itu masuk ke dalam warung, ngobrol sebentar dengan ibu warung, terus malah ngobrol santai berdua sesama bapak-bapak. Terlihat sepertinya mereka tak berminat. Barangkali motor saya tidak menggiurkan ya, saudara?
Kalau saya langsung nyelonong pergi jelas gak sopan, akhirnya saya bertanya lagi untuk memastikan :
Pripun, pak?”
Mau nutup sih mbak, warungnya”
“Oh, nggeh mpun pak, mboten nopo-nopo. Suwun”
Saya pergi. Satupun diantara mereka tidak ada yang bisa menolong. 

Saya mencoba nyetarter motor lagi, tetap gak bisa. Saya clingak-clinguk lagi. Kendaraan bersliweran silih berganti. Duh, koq gak ada orang pabrik (dari tempat saya kerja) yang lewat sini, ini kan jam istirahat, biasanya mereka ada yang pulang atau cari makan lewat sini.
Dalam keadaan seperti ini saya menyesal kenapa hp ditingal di kantor. Kalau ada handphone kan saya bisa minta tolong orang pabrik untuk nyusulin saya dan mengantarkan bensin. Haduh mak, saya jadi baper. 
Kalau harus ndorong motor ke arah selatan, saya harus kuat-kuat jalan. Saya tahu betul jaraknya masih jauh, apalagi lihat tanjakan aduhai... perlintasan KA. Telan ludah saja, saya lagi puasa.

Maka moment berikutnya adalah saya melambai-lambaikan tangan ke orang yang lewat. Gak langsung berhasil. Ada yang cuma ngelirik, tidak menghentikan laju motornya. Sungguh saya berasa lagi di acara social experiment yang sering diupload-upload di youtube atau di acara Tolong yang pernah kondang di tipi swasta.
Akhirnya saya mendapat pertolongan dari mas-mas setengah baya. Saya kasih dia uang untuk minta tolong dibelikan bensin dan saya menunggunya kembali membawakan bensin itu.  Akhirnya saya terselamatkan. Terimakasih, saudara....

Karena kejadian ini, pikiran saya berseliweran pada banyak hal:

Kita:

Kita adalah mahluk masa kini yang sangat hati-hati memberikan pertolongan pada orang yang tak dikenal.

Sosial experiment:

Acara ini muncul untuk menguji bagaimana respon masyarakat ketika ada orang tak dikenal meminta pertolongan. Karena acara ini pula, orang jadi ngarep kalau dia nolong orang : kali aja setelah itu tiba-tiba ada tim yang menghampiri bawa kamera, atau lebih untung lagi kalau ternyata dikasih hadiah semacam uang kaget jutaan rupiah. Tapi ada yang menyalah gunakan juga, acara macam ini malah dijadikan ide modus untuk melakukan kejahatan, pura-pura meminta pertolongan lalu kabur setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Eh tapi masih banyak ding orang baik yang mau nolong tanpa pamrih di sekitar kita. Contohnya seperti mas-mas yang nolongin saya, padahal dia lagi repot bawa barang-barang di motornya.

Saya:
Saya pernah mengomentari mengapa orang lebih suka menghubungi kawannya yang jauh melalui hp dan rela menunggunya berlama-lama dari pada meminta pertolongan langsung dari orang sekitar. Toh kita kan punya mulut, kenapa tidak meminta bantuan orang yang di sekitar kita saja? Ternyata seperti ini ya saudara.... Hehe....
Semoga kita bisa menjadi lebih baik ya.

Setelah motor saya bangkit dari mati surinya, saya putar balik kembali ke jalur yang benar, melanjutkan perjalanan. Oh, petugas pos... saya datang.
Sebelum pergi, saya melihat sebentar ke warteg depan pasar.
Selamat tinggal, warung yang mau nutup. Semoga setelah nutup kalian lebih lapang untuk menolong orang.

Do I love my job?

Do I love my job? Pekerjaan saya boleh dibilang lumayan prestisius. Saya seorang finance dan juga human resources di perusahaan ekspo...