Jumat, 19 Februari 2016

Salah Kostum di Batu Agung

Adventure atau petualangan telah “melebar”  tujuannya menjadi ajang pemotretan untuk kemudian dipajang di media sosial. Meskipun kenyataannya lokasi yang ada di foto-toto tersebut tidak seindah yang ada di gambar, mereka berhasil menarik perhatian, menjadikan kita penasaran, dan akhirnya orang berbondong-bondong datang. Traveller baru bermunculan, pendaki pemula berdatangan, yang katanya untuk percobaan sebelum mendaki gunung betulan. Salah satu tempat yang mendadak jadi kunjungan banyak orang karena ngetrend di media sosial kalangan pemuda Tegal adalah Gunung Lawa, di desa Batu Agung, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Sebenarnya ini bukan gunung, ini hanya tumpukan batu-batu besar yang menjulang membentuk bukit dengan ketinggian sekitar 434 mdpl. Istilah Gunung Lawa adalah sebutan resmi yang ditulis oleh Perum Perhutani. Namun, masyarakat lebih  familier dengan sebutan Batu Agung.


Track menuju Batu Agung memang cukup menantang, mengingatkan kita pada track Merapi via New Selo. Penuh bebatuan terjal. Walaupun hanya sekuku ireng (tidak ada apa-apanya) bila dibandingkan dengan Merapi, track ini lumayan bikin ngos-ngosan. Memang cocok untuk latihan mendaki. Untungnya masyarakat sekitar berinisiatif memasang tali ataupun tangga kayu untuk memudahkan naik ke puncak bukit. Saat mendatangi tempat ini saya menyaksikan pemandangan yang “menggelikan”. Banyak yang salah kostum rupanya, terutama wanita. Kalau yang memakai sandal japit masih saya maklumi, karena ini hal biasa. Penduduk desa jika ke sawah, kebun, bukit, atau pengunungan, mengenakan pakaian dan alas kaki sederhana. Mereka sudah terbiasa. Mendaki bukit pun menjadi aktifitas sehari-hari untuk berkebun, mencari rumput atau kayu bakar. Yang pakai rok, pun sangat saya pahami. Mereka adalah para akhwat yang istiqomah menjaga aurat. Berhijab panjang, berpakaian longgar namun tetap memakai celana panjang sebagai daleman. Meskipun ada yang mengira mereka ribet, pakaian dan sepatu yang mereka kenakan tetap safety untuk tracking ini. Yang membuat saya geli adalah cara berpakaian mereka, sebut saja nona-nona sosialita.

Sebelum ke tempat ini sebaiknya cari tahu terlebih dahulu Batu Agung itu seperti apa. Jangan latah karena sosial media. Jangan karena ingin berfoto-foto dan ingin terlihat kece di kamera, kalian mengenakan pakaian gaya-gayaan. Tas slempang ala cewek-cewek nongkrong di pusat perbelanjaan, sepatu flat sejenis crocs atau ballet, atau yang lebih ngenes ada yang pakai sandal wedges. Kerudung pasmina membelit di kepala penuh gaya, muka full make up, plus kacamata besar hitam atau coklat. Akibatnya kalian akan kerepotan mendaki bukit. Sandal-sandal bergaya nona-nona yang berserakan, berjatuhan di sela-sela bebatuan adalah bukti dari beberapa contoh yang salah kostum tadi. Bahkan ada pula yang handphonenya jatuh terlalu dalam di bebatuan. Tidak bisa diambil, hanya bisa diikhlaskan dan ucapkanlah selamat tinggal.
Jika memang sangat ngebet ingin berfoto di atas bukit dengan busana yang “kece”, bawa saja pakaian tersebut menggunakan ransel atau daypack. Saat mendaki kenakanlah pakaian yang aman dan nyaman, baru setelah di puncak berganti pakaian. Tapi ide konyol ini sebaiknya jangan dilakukan karena keadaan di atas bukit bukanlah tempat lapang. Selain ribet dan terlihat norak, tindakan ini bisa membahayakan.

Jadilah traveller yang baik, safety dan sopan dalam berpakaian, tetap menjaga kebersihan. Jangan menambah tumpukan sampah yang ditinggalkan oleh mereka yang ngakunya cinta alam tapi suka membuang sampah sembarangan. Dampak negatif dari banyaknya pengunjung adalah Batu Agung menjadi rusak keasriannya. Sampah bercecer di mana-mana. Botol minuman, plastik bekas makanan berserakan. Jangan pula mengikuti ulah orang-orang egois yang mencoret-coret batu dengan tulisan ataupun gambar sekehendak hatinya. Orang seperti ini ingin jejaknya tetap ada di bebatuan tapi tak peduli bahwa tindakan tersebut malah merusak keindahan. Vandalisme sangat tidak keren, kang!
Tulisan ini dibuat berdasarkan pengamatan saya saat mengunjungi Batu Agung tanggal 6 September 2015, yang bisa saja bersifat subjektif. Mudah-mudahan keadaan Batu Agung sekarang telah membaik.


FOTO-FOTO

View dari atas bukit.
Bagi muslim yang ingin menikmati sunset sebaiknya sholat ashar dulu di bawah, sebelum mulai mendaki bukit. Sholat atas bukit sangat tidak memungkinkan.

Batu Agung Tegal

Sunset di Batu Agung



Enjoy the moment

Utamakan keselamatan, bukan sekedar foto kekinian

Terletak di Bumi Jawa Kabupaten Tegal










Tracking ke bukit




  


Ada anak kecil yang mau naik di dampingi bapaknya, tapi belum sampai tujuan dia menyerah. Kalau gak kuat jangan dipaksakan ya, apalagi untuk balita.



Ini salah satu contoh yang sedikit repot


View di bawah, sebelum sampai di lokasi bebatuan


Ada toilet-toiletan. 


Apakah larangan ini kadaluarsa?

2 komentar:

Diam - Diam Balas Dendam

Apa korelasinya antara gak bisa tidur dan setrika? Kalau pengalaman pribadi saya sih ada. Sodara-sodara... sebenarnya...