Kamis, 24 Maret 2016

RUMAH BERNAMA RAHAYU


Setiap rumah punya cerita bahkan ada yang punya nama. Saya pernah membaca sebuah novel fiksi sains yang bersetting di Bandung, dalam buku tersebut ada sedikit part yang menceritakan sebuah bangunan rumah bergaya arsitektur Belanda. Rumah tersebut bernama Eleanor. Saya tidak heran mengenai hal ini karena di daerah Tegal pun demikian. Akan tetapi, tidak semua rumah di Tegal memiliki nama, atau sebenarnya punya nama tetapi si penghuninya lupa. Berbeda dengan Eleanor di Bandung yang sengaja disematkan dalam bentuk tulisan yang terpampang kokoh dan jelas di dinding bangunan, pemberian nama rumah di Tegal disematkan pada saat acara puputan umah tanpa ada atribut atau dokumentasi apa-apa. Yang tahu juga hanya orang tua jaman dulu yang masih konsisten melaksanakan tradisi. Lalu setelah orang-orang tua itu meninggal, pewaris mereka tidak tahu kalau rumah itu punya nama.

Kisah nyata. Ada sebuah rumah di Tegal, tepatnya di desa Kalinyamat Wetan blok Kepyar yang memiliki nama Rahayu. Tampang rumah itu agak seram, kusam tanpa perawatan. Gentengnya masih berwarna orange cerah lumayan seperti baru dipasang, tapi talang-talang dan ternitnya sudah mencuat-cuat, beberapa diantaranya sudah rusak berat. Temboknya masih tampak kokoh tapi bagian belakang rumah tampak hampir roboh. Cat temboknya berwarna tidak jelas, sebagian besar sudah terkelupas. Singkatnya Rahayu tampak rapuh dan lusuh, seperti rumah tak berpenghuni. Padahal sekitar 30 lalu Rahayu adalah salah satu rumah mewah di daerah ini.
Sekitar 30 tahun lalu.
Rumah itu cukup besar, dibangun di atas tanah seluas 300 meteran. Material bagunan dipilih dari bahan-bahan terbaik yang tentu saja mahal. Gentengnya dipilih dari jenis yang tidak mudah pudar warnanya. Lantainya memakai ubin yang warnanya hitam mengkilat. Tiangnya kuat. Kayu-kayunya jati asli. Bagian depan rumah dibuat teras yang luas agar para tetangga bisa ikut menonton tv bersama. Saat itu orang yang pertama punya tv adalah pemilik rumah ini. Pemilik sekaligus orang yang membangun Rahayu bernama Pak Talim, istrinya bernama Ibu Surwi.  Anak mereka banyak jumlahnya sekitar 7, 8 atau 9. Ada yang kembar, ada yang meninggal sebelum sempat dilahirkan. Tapi meskipun banyak anak mereka tidak perlu khawatir membiayai semua. Mereka punya banyak harta. Sawah dan kebunnya banyak, simpanan mereka bukan uang di bank tapi batangan emas atau kepingan perak. Selain memiliki banyak sawah dan kebun di Tegal, di Jakarta mereka memiliki kios rokok, warteg, dan lapak kecil di pasar. Tapi kejayaan di rumah itu tinggal kenangan. Betullah ungkapan yang mengatakan bahwa harta hanyalah titipan sementara. Seperti roda berputar, yang dulunya makmur kini seperti jatuh tersungkur.
Mari saya ceritakan tentang perubahan Rahayu dari kategori rumah mewah menjadi rumah ala kadarnya.
Pak Talim dan istrinya meninggal sekitar tahun 1990an, meninggalkan 7 anak yang sebagian besar belum matang. Mereka baru berusia sekitar 2, 6, 8, 11, 14, 16, dan 20 tahun. Mereka seperti anak ayam kehilangan induknya, lemah, sedikit bego dan tak punya kuasa. Sebagian besar sifat anak-anak Pak Talim ternyata pemalu, penurut, tidak tegaan dan tidak enakan. Rendah hati dan rendah diri, adalah kombinasi karakter khas keluarga ini.
Anak yang ke 7, 6, dan 5 tidak usah diperhitungkan dululah ya, mereka masih bocah yang belum bisa apa-apa. Anak yang ke 4 laki-laki, baik hati, tidak tegaan, pemalu dan pemalas. Sudah bisa ditebak, orang seperti ini gampang bangkrut dan tidak akan bisa mempertahankan kekayaan. Anak yang ke 3 dan ke 2 perempuan, yang juga tidak enakan. Mereka nurut saja apa yang disuruh kakak paling tua. Celakanya yang paling tua seperti produk gagal. Dia memiliki keburukan. Suka judi dan mabuk-mabukan. Kebiasaan yang buruk itu menjadikannya serakah dan tidak berlaku adil terhadap hak adik-adiknya. Satu per satu warisan dia jual, hingga dalam waktu cepat habislah warisan. Mereka terjun bebas, terjerembab dalam status anak-anak yatim yang miskin.
Satu-satunya peninggalan Pak Talim yang masih tersisa adalah rumah itu, rumah yang diberi nama Rahayu. Semakin lama Rahayu kehilangan citra mewahnya berubah menjadi rumah jelek karena belum pernah direnovasi sama sekali. Tahun demi tahun di Rahayu banyak cerita. Setelah menghabiskan hampir seluruh warisan, anak sulung Pak Talim pergi entah kemana. Anak ke 2 dan ke 5 sakit jiwa. Anak yang ke 2 sepertinya tidak lagi mengecap rasa hidup bahagia. Setelah sembuh dari sakit jiwanya, dia menikah namun baru sebentar langsung diceraikan lantaran si suami dihasut orang perihal riwayat kesehatan si perempuan. Kehidupan ekonomi yang sulit, membuat anak Pak Talim susah sembuh dari sakit. Dia menderita penyakit TBC hingga akhirnya meninggal di usia 27 tahunan. Sedangkan anak yang nomor 5 sakit jiwa dalam waktu yang sangat lama, dari tahun 1997 sampai tahun 2013, dari remaja hingga ajalnya tiba. Anak Pak Talim yang ke 6 laki-laki, paling ekstrovert, suka bersosialisasi, rajin dan ramah dengan siapa saja juga meninggal di usia muda, di tahun 2010, di usia sekitar 26 tahun dan belum menikah.
Anak-anak Pak Talim sudah banyak yang meninggal di rumah itu. Baru-baru kemarin terdengar kabar bahwa anak Pak Talim yang sulung pun meninggal. Namun meninggalnya bukan di rumah itu, melainkan di daerah lain. Jenazahnya dikubur di Cirebon tapi entah pastinya dimana, tidak ada pihak keluarga yang bisa menemui. Yang pasti dia tidak kembali ke Tegal, dan tidak kembali ke rumah itu lagi.
Bukan hanya anak-anak Pak Talim saja yang ditimpa kemalangan, secara fisik Rumah Rahayu pun mengalami penganiayaan. Selokan depan rumah dibongkar oleh para tentara yang sedang menjalankan program bersih kali. Para tentara itu pandai membongkar tapi tidak pandai memperbaiki. Dibiarkannya selokan itu terbuka tanpa penutup apa-apa. Kasian sekali si penghuni rumah, sudah bertahun tahun tidak bisa renovasi apa-apa, sekarang selokannya dibongkar untuk alasan kebersihan. Padahal efeknya malah merugikan si penghuni rumah, kadang-kadang dari selokan tercium bau, dan anak-anak kecil suka membuang sampah sembarangan di selokan ataupun melempar batu.
Yang menggelikan adalah perlakuan tetangga yang tinggalnya sekitar 30 meter dari Rumah Rahayu yang tidak lain tidak bukan adalah keponakan kandung Pak Talim. Keponakan Pak Talim baru saja membeli mobil, ketika melewati gang samping Rahayu, mobilnya menyerempet pagar tembok Rahayu. Dia marah-marah dan menyuruh anak Pak Talim untuk membongkar pagar itu. Apakah anak Pak Talim menolak? Tidak, mereka tidak bisa menolak. Kalau dalam bahasa Jawa mereka itu adalah orang yang nrimo, yaitu orang yang menerima dengan pasrah apapun yang menimpa dirinya. Bisakah kalian bayangkan seperti apa perasaan anak-anak Pak Talim. Mereka miskin, rumahnya jelek dan rapuh, lalu sepupu mereka yang naik pangkat jadi OKB (Orang Kaya Baru), dengan kalimat dan dialek khas asal Tegal berkoar-koar:
“Kaeh temboke Talim dibongkar bae kaeh! Ngomong Likha temboke kudu dibongkar !”
Mari saya bantu terjemahkan dan jelaskan maksud kalimat ini dalam bahasa Indonesia.
Kalimat tersebut artinya : “Itu temboknya Talim dibongkar saja itu. Katakan ke Likha temboknya harus dibongkar”
Likha adalah nama anak Pak Talim yang nomor 3.
Dari segi norma kesusilaan dan kesopanan seharusnya kalimat itu tidak pantas terlontar. Menyebut pamannya sendiri hanya dengan sebutan “Talim”, padahal semestinya dia memangil Pak Talim dengan sebutan Man Talim (kependekan dari Paman Talim). Apalagi dengan nada kesal dan marah-marah. Apa salah si tembok hingga harus dibongkar? Bukankah tembok itu sudah ada sebelum dia lahir? Salah tembok atau salah yang nyupir? Bukankah mobil-mobil yang dikendarai orang lain bisa melintas di gang itu dengan sukses tanpa tergores?, bahkan gang itu pun menjadi spot andalan para pengendara mobil saat putar balik kendaraan.  Rupaya telah hilang rasa hormat sang keponakan terhadap paman kandungnya sendiri yang sudah meninggal. Telah hilang pula rasa empati terhadap nasib yang menimpa sepupu-sepupunya.
Anak-anak Pak Talim hanya bisa memprotes ini dalam hati. Sekali lagi, mereka adalah orang yang nrima. Mereka tak punya kekuatan untuk melawan, dan kalaupun mereka punya keberanian untuk melawan, hal tersebut tidak akan dilakukan. Mereka lebih memilih menghancurkan tembok pagar rumahnya daripada harus ribut dengan saudara. Apalagi kalau hanya karena urusan tembok yang sudah bobrok. Meski terlihat seperti orang bego yang lemah tak berdaya tapi mereka telah memilih orientasi hidup yang lebih bermakna ketimbang meributkan soal harta.
Baru-baru ini persis di belakang Rumah Rahayu sedang dibangun sebuah rumah. Area itu dulunya adalah kebun dan sebuah rumah gubuk kecil. Si pemilik gubug meninggal dan tanahnya dijual. Pemilik tanah yang sekarang adalah seorang pendatang yang menikah dengan salah satu warga desa ini. Entah bagaimana mulanya, si pemilik kebun bilang ke anak Pak Talim bahwa teras belakang Rumah Rahayu dibangun di atas tanah miliknya, sehingga teras tersebut harus dibongkar. Dibandingkan dengan keponakan kandung Pak Talim, cara si pemilik kebun ini jauh lebih sopan. Dia tahu tata krama, tahu agama pula. Dia meminta pembongkaran itu secara baik-baik. Hanya saja hal ini membuat anak Pak Talim bertanya-tanya. Betapa aneh terasa. Rumah Rahayu sudah berdiri puluhan tahun, kini harus mengalami penyusutan karena gugatan seorang pendatang.
Perubahan nasib yang dialami keluarga Pak Talim dari yang awalnya sebagai orang terpandang dan berkecukupan menjadi keluarga yang bercerai-berai mengenaskan, miskin, penyakitan, gila, mati muda, membuat tanda tanya dan duga-duga apa sebetulnya yang menimpa mereka. Nasib atau karma? Tapi karma karena apa? Seperinya tidak ada berita-berita buruk mengenai Pak Talim ataupun istrinya. Mereka meninggalkan sejarah yang cukup bagus. Saya memang masih sangat kecil pada saat Pak Talim meninggal, yang artinya saya belum sempat mengenal karakter Pak Talim dan Ibu Surwi secara mendalam. Wajah mereka pun hanya samar-samar dalam ingatan. Tapi dari cerita berbagai sumber, kepingan-kepingan kejadian yang tidak berurutan, benda-benda peninggalan, tempat tinggal dan sebagainya, saya mencoba melakukan semacam riset-risetan untuk mengenal mereka secara objektif.
Rumah Pak Talim bisa menjadi media untuk mengenal mereka. Pak Talim orang yang mampu membangun rumah besar dan mewah tapi rumah itu segaja tidak dipagarinya. Dia hanya membangun pagar tembok sebagai pertanda batas tanah miliknya tanpa menutup pagar-pagar itu. Ada lima celah pagar yang dibiarkan terbuka tanpa gerbang penutup ataupun kunci. Bagian depan 1 pintu, samping 3, belakang 2. Semuanya disengaja dibuat terbuka agar orang-orang dari arah mana saja bisa datang ke rumahnya ataupun sekedar numpang lewat bila dirasa lewat jalan utama terlalu lama. Teras depan sengaja dibuat luas, dilapis semen supaya tidak becek, untuk acara nonton tv ramai-ramai dengan warga. Dibelinya soundsystem yang besar setinggi badan orang supaya semua penonton bisa mendengar. Disajikannya rokok, makanan, minuman, pada setiap tamu yang datang. Dibagikannya oleh-oleh pada orang sekitar setiap Pak Talim pulang dari perantauan.
Jika dilihat dari desain rumahnya, saya menduga Pak Talim bukan orang yang suka pamer. Semua bahan bangunan dipilihnya yang berkualitas baik, tapi khusus bagian depan dia buat yang biasa saja. Supaya tidak tampak wah dilihat dari luarnya. Dia hanya memperkuat struktur bagunan di dalamnya. Dan perabotan rumah yang dia miliki pun boleh dipinjam oleh siapa saja yang membutuhkan. Kursi tamu dipinjam untuk dijadikan kursi pelaminan, soundsystem atau tv dipinjam untuk meramaikan di acara hajatan.
Lalu kenapa keponakan Pak Talim seperti tidak begitu hormat? Usut punya usut, Pak Talim dan kakaknya pernah terlibat perkelahian hebat. Heboh, pukul-pukulan, jambak-jambakan, saling membenturkan badan ke pepohonan sampai robohlah itu pohon-pohon pisang. Perkelahian terjadi karena kakak Pak Talim berhutang beberapa perak ke Pak Talim. Menurut Pak Talim belum semua perak dikembalikan tapi menurut si kakak dia sudah mengembalikan semuanya. Keduanya berselisih saling ngotot sampai terjadi adu otot. Sepertinya ini yang membuat keponakan Pak Talim kehilangan rasa hormat terhadapnya. Ditambah lagi kakak Pak Talim mengarahkan anak-anaknya untuk membenci keluarga Pak Talim. Mungkin pada saat itu si kakak sedang emosi sehingga menularkan virus benci. Namanya saudara kandung, seheboh-hebohnya mereka berselisih akan baikan lagi. Tapi tidak dengan anak-anak, meskipun orang tua mereka baikan, si anak tetap mengingat. Rupanya kejadian tempo silam yang baginya kelam menjadikannya susah untuk menghilangkan dendam. Setelah keponakan Pak Talim dewasa, mereka bisa mengesampingkan urusan masa lalu, berlaku baik selayaknya saudara sepupu. Hanya saja satu orang diantara mereka kadang-kadang bersikap tidak menyenangkan.  Ah abaikan, apapun yang dilakukan tak boleh lagi diantara mereka tersulut perselisihan.
Itulah Pak Talim si pemilik rumah Rahayu. Dia bisa berbuat galak untuk urusan yang dia anggap benar. Sikap seperti ini mungkin bisa jadi keburukan atau kekuatan. Kakaknya yang dianggapnya mengaku-ngaku sudah membayar hutang dia lawan. Anak pertamanya yang beranjak bujang melakukan perbuatan salah dihukumnya pula, diikat di pohon atau disuruh tidur di kebon. Rupanya si sulung sudah memperlihatkan tanda-tanda kebanditannya semenjak remaja. Hanya saja pada saat remaja si sulung masih terkendali karena ada orang tua, tapi begitu orang tua meninggal si sulung kembali liar.
Itulah sedikit gambaran tentang karakter pendiri Rumah Rahayu. Sekarang di tahun 2016, secara fisik Rahayu memang telah mengalami kemunduran. Secara jumlah penghuninya telah berkurang. Anak Pak Talim yang masih hidup tersisa 3 orang yaitu anak yang nomor 3, nomor 4 dan nomor 7 yang paling bungsu. Mereka bertiga adalah pewaris Rumah Rahayu. Secara finansial kemampuan mereka bertiga memang jauh di bawah orang tuanya. Namun apa yang mereka alami di Rumah Rahayu tidak melulu tentang kesusahan. Mereka memang pernah mengalami masa-masa lapar, pernah berhari-hari tidak makan, pusing bayar tagihan ataupun engap-engapan untuk bayar biaya pendidikan, tapi ada saatnya juga mereka bisa makan dengan layak dan enak, bisa bayar tagihan, bisa merasakan kemajuan teknologi, bersantai-santai sambil menonton tv, senam jari memainkan gadget menikmati internet.  Dan bisa dikatakan masa sekarang adalah masa kestabilan ekonomi bagi mereka.
Anak Pak Talim yang nomor 3 mengalami pasang surut kehidupan, susah senang, susah lagi, senang lagi. Usahanya jatuh bangun. Sekarang ini dia mulai merintis usaha lagi di Jakarta, membuka warteg seperti kebanyakan usaha orang-orang Kalinyamat Wetan. Dia telah menjadi ibu, dengan 2 anak yang sudah tumbuh besar dan rupawan. Keduanya sudah bekerja. 
Anak Pak Talim yang nomor 4, barangkali dialah yang masih hidup susah. Dia sudah menikah dan biaya hidupnya semakin bertambah. Seperti kemasan paket beli satu dapat tiga, menikah dengan janda beranak dua, plus bonus dua mertua. Risikonya timbul tuntutan agar dirinya menafkahi banyak nyawa. Sungguh disayangkan, kedekatan dan kebaikannya yang berlebihan kepada keluarga barunya tidak diiringi dengan kerja keras dan kematangan atau kedewasaannya dalam berfikir dan bertindak. Sifat malasnya susah dirubah, cara berfikirnya semakin tumpul saja. Dia juga lumayan bebal terhadap nasihat, susah diarahkan, selalu bangkrut jika diberi modal, terlalu sensitif dan ngambekan sehingga membuat saudara-saudaranya kewalahan. Maka awetlah dia pada nasib susah.
Si bungsu, yang dulu menjadi yatim piatu pada saat dia masih menyusu sekarang sudah dewasa. Tampangnya cenderung “awet tua”, terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Dia mengalami hidup seperti lagu dangdutnya Caca Handika : “masak, masak sendiri, makan, makan sendiri, cuci baju sendiri”. Kelas 5 SD dia belajar hidup sebatang kara, di usia segitu pula dia belajar melaksanakan tugas merawat kakak yang sakitnya tak kunjung waras. Si bungsu tidak banyak bicara, fisiknya terlihat agak tomboy. Mungkin dia itu perempuan perkasa. Beberapa pekerjaan yang biasanya menjadi tugas lelaki dia lakukan sendiri, seperti utak-utik lampu, menebang pohon, membopong lemari dan kursi, membersihkan selokan, mencangkul di halaman untuk bercocok tanam atau mencabuti rumput-rumput liar. Si bungsu ini sepertinya punya spirit edan. Keterbatasan tidak dijadikannya sebagai hambatan. Semua kakaknya cuma lulusan SD, dia bertekad harus bisa sekolah minimal lulus SMP. Melebihi ekspetasi semula, keajaiban membawanya sampai tingkat SMK. Lulus SMK tahun 2007 dia merantau ke Bandung lalu terdampar di Jatinangor dan bekerja disana. Sambil tetap bekerja, tahun 2009 keinginannya untuk kuliah tercapai juga. 2013 dia menjadi lulus menjadi sarjana dengan predikat cumlaude. Sekarang dia di Tegal kembali, bekerja dan beraktifitas di sini, tinggal di rumah bernama Rahayu lagi.
Si bungsu mengetahui bahwa rumah itu memiliki nama adalah dari kakaknya yang nomor 2, sebelum si kakak meninggal dunia. Sedikit bukti bahwa rumah itu bernama Rahayu adalah tulisan dengan cat putih yang ada di atap rumah bagian tengah. Tulisan itu sudah pudar, yang terbaca hanya 4 huruf : RAHA.
Sebagai satu-satunya orang yang tahu bahwa rumah itu bernama Rahayu, si bungsu merasa perlu menceritakannya sebelum dirinya lupa, berkurang ingatan karena menua atapun seperti kakak-kakaknya yang mati muda. Umur tidak ada yang tahu. Setidaknya dengan bercerita dia berusaha mengingatkan diri sendiri untuk selalu bersyukur dan berbuat baik. Maka dia bercerita melalui media, dan dengan satu gerakan “klik” cerita itu terunggah di blog pribadinya.


Do I love my job?

Do I love my job? Pekerjaan saya boleh dibilang lumayan prestisius. Saya seorang finance dan juga human resources di perusahaan ekspo...