Selasa, 18 Oktober 2016

Teman Numpang Lewat



Ada tidak diantara kalian yang dulu pernah bertemu seseorang sebentar, setelah itu tidak pernah bertemu lagi tapi orang-orang itu masih kalian ingat sampai sekarang?
Anehnya orang-orang tersebut mungkin saja tidak mengenal kita. Kita masih mengingat mereka karena bisa jadi mereka memiliki kesan-kesan yang berpengaruh pada kehidupan kita.
Saya menyebut mereka sebagai teman numpang lewat. Tak peduli kenal atau tidak, renggang atau dekat. Mereka saya anggap teman karena kehadiran mereka singkat namun cukup bermanfaat. Dan teman numpang lewat itu muncul di masa tahun 1999-2007, atau rentang waktu saya sekolah SD sampai SMK.
Mengapa di masa kuliah tidak ada sebutan teman numpang lewat?
Saya masuk kuliah tahun 2009. Perkembangan teknologi di masa ini sudah teramat pesat dan telah menjangkau seluruh kalangan. Walaupun sekarang saya sudah lulus dan berpisah dengan teman-teman kuliah, saya masih bisa berkomunikasi dengan mereka atau melihat mereka melalui berbagai aplikasi media sosial. Maka teman-teman kuliah belum cocok disebut sebagai teman yang numpang lewat. Mereka lebih dari itu. Mereka lebih dekat. Mereka masih memiliki masa tanyang yang lebih panjang. Dan eksistensi mereka akan ditunjukkan oleh waktu.
Teman numpang lewat adalah sebutan saya kepada mereka yang pernah terlibat di kehidupan saya namun saat ini saya tidak mengetahui kabar apa-apa lagi dari mereka dan saya tidak memiliki koneksi apapun dengan mereka.  Seperti dissapear. Pada akhirnya setiap yang datang akan menghilang.
Saya ingin menceritakan beberapa orang, yang sebenarnya tidak begitu saya kenal dan sepertinya orang-orang tersebut juga tidak mengenal saya tapi mereka masih saya ingat betahun-tahun lamanya.  

Masa SD
Icha, Lala, Gendhis.
Tiga bocah ini sengaja saya sebutkan namanya secara bersamaan karena mereka bertiga sempat bikin saya minder saat mengikuti lomba siswa teladan. Bagaimana tidak minder, sodara? Saat itu saya kelas 5 SD. Saya ini bocah kampung, pertama kali berinteraksi dengan dunia kota bertemu dengan anak-anak cewek yang “uwow”, “ga-hul”, smart, percaya diri. Mereka bertiga dari sekolah yang berbeda-beda, namun begitu bertemu, mereka bisa langsung akrab dan membentuk koloni semacam ratu lebah, sangat menonjol diantara lainnya.
Dan saat kelas 6 SD, kami kembali bertemu. Kali ini di acara pesta siaga. Kebetulan ini sangat ajaib. Tenda saya dikepung tenda mereka. Tenda Icha ada di samping kiri saya, tenda Gendhis ada di sebelah kanan saya, dan tenda Lala ada di belakang tenda saya. Sudah saya katakan tadi bahwa saya ini anak kampung, saya pun bersekolah di SD kampung yang prestasinya tidak gemilang. Ternyata yang minder dengan lingkungan kota bukan hanya saya. Rupaya kawan-kawan SD saya mengalami hal yang sama. Mereka shock melihat dunia luar. Dunia yang berbeda dengan kita. Kami ini biasa makan seadanya main apa saja seadaanya tapi tetap menyenangkan. Kami biasa kemah-kemahan di kebon atau halaman rumah, kami biasa mandi di sungai atau sawah, namun kami belum pernah menyaksikan atau berinteraksi langsung sebelumnya dengan orang-orang semacam Icha, Lala, Gendhis, dan anak-anak kota lainnya. Mereka selalu dijenguk saat berkemah, dibawakan makanan aneka rupa. Mereka memanggil orang tuanya dengan sebutan Papah-Mamah, Ayah-Ibu, Ayah-Bunda, yang paling sederhana Bapak-Ibu, sedangkan rata-rata di lingkungan kami panggilan ke orang tua adalah Bapane-Mane, Bapak-Mamak, dan yang paling sakral adalah Abah-Ummi.
Mereka membawa alat-alat kemah lengkap, bahkan dari mereka ada yang mengejek tenda kami karena kami begitu “biasa saja”. Mereka bilang tenda mereka enak, lengkap, “ember aja ada tutupnya”. Tenda mereka waterproof, tenda kami cuma kain putih hasil karya tukang jahit menggabung-gabungkan kantong terigu yang dikumpulkan dari para siswa. Makanan mereka dikirim dari pihak sekolah, sedangkan kami bekal sendiri-sendiri atau beli di warung-warung sekitar buper. Mereka berprestasi, lomba pesta siaga dengan mudah mereka ikuti. Membuat prakarya lampion, mereka bisa membuatnya dengan indah-indah. Lomba masak, guru-guru dan orang tua mereka ikut terlibat, yang tentu referensi masaknya lebih hebat. Lomba karnaval fashion, mereka menyiapkan kostum yang keren-keren. Jadi kami ini tidak ada apa-apanya, kami ini regu pramuka yang “ecek-ecek”.

Herlanda
Saya bertemu dengan Herlanda saat mengikuti lomba Pendidikan Agama Islam di kelas 5 SD. Lomba itu diadakan selama 2 hari. Namun saya baru menyadari kehadirannya di hari kedua, saat kami sama-sama masuk lima besar. Tapi kami tidak saling kenal. Maklumlah bocah cilik belum berani kenalan atau sekedar ngobrol sesama peserta lomba. Kelas 6 saya melihat dia lagi di kegiatan pesta siaga tapi tetap tidak saling kenal ataupun saling sapa. Setelah itu saya tidak pernah melihatnya lagi.

Masa SMP
Pengalaman semasa SD rupanya menggiring saya menjadi tidak berani memilih SMP favorit. Secara NEM seharusnya saya bisa masuk ke SMP manapun, namun secara spikologi dan ekonomi saya merasa tidak mampu berada di sekolah-sekolah bonafid itu. Maka pilihan saya adalah bersekolah di SMP N 17 Kota Tegal, yang letaknya ada di pinggiran namun prestasinya selalu masuk peringkat 5 besar. Beradaptasi dengan kawan-kawan di SMP adalah hal yang mudah. Kawan saya kebanyakan berasal dari daerah Margadana, Sumur Panggang, Kaligangsa, Cabawan, Kalinyamat Kulon, Tunon, Keturen atau daerah-daerah sekitarnya yang tentu saja kami masih satu kultur, memiliki kebiasaan yang sama, kehidupan sosial yang sama, seperti orang-orang Tegal kebayakan.
Pertemanan saya di SMP ya seperti anak-anak SMP pada umumnya. Gonta ganti teman kelas, gonta ganti intensitas. Dari ratusan teman SMP itu mari saya ceritakan salah satu dari mereka.  Namanya Saprapti.
Menyebut namanya saja sangat susah. Guru-guru pun susah mengeja. Saparti, Suparti, Saparati, Parti. Tidak ada yang tepat.
Kami satu kelas di kelas 2A. Dia ini seperti invisible human. Manusia tak terlihat. Sangat tidak menonjol. Tidak pernah ngumpul-ngumpul, tidak ngobrol, kemana-mana sendirian, ke toilet sendirian, tidak pernah kelihatan di kantin. Hidupnya datar, biasa sekali, berangkat sekolah, masuk kelas, duduknya sendirian, di pojokan, tidak pernah tunjuk tangan, tidak mengajukan pertanyaan, tidak ikut bersuara saat diskusi kelas, seolah-olah dia benar-benar tidak ada.
Jalannya cepat, menunduk, tidak pernah menatap orang. Dalam tebakan batin saya, saat Saprapti berjalan, dia sangat tidak percaya diri, kikuk, seolah-olah semua mata sedang mengintimidasinya sehingga itu membuatnya berjalan cepat-cepat.
Fisiknya ? Friends, pernahkan kalian menonton film remaja Jepang berjudul Kimi Ni Todoke yang salah satu siswinya mendapat julukan Sadako? Ya itulah penampakan Saprapti. Rambutnya panjang lurus tak berponi, selalu digerai, tidak pernah dikuncir, tidak pernah dipita sedikit ataupun sekedar dijepit. Lurus total, muka datar, bahkan rambutnya kadang menutupi muka saat dia menunduk. Horror kan? Saya pikir manusia semacam itu cuma ada di tv, ternyata nyata ada di kehidupan kami.
Ajaib. Entah bagaimana mulanya, kami bisa ngobrol. Kalau boleh kepedean, saya merasa sepertinya saat itu saya adalah satu-satunya manusia yang ngobrol dengan Saprapti, atau saya adalah manusia pertama di kelas yang dekat dengan dia.
Setelah kami bisa ngobrol di kelas tiba-tiba suatu hari di hari Minggu Saprapti main ke rumah saya. Saat itu saya sedang mendengarkan radio yang memutar lagu-lagu jadul tahun 80-90 an, semacam lagu Kereta Malam, Bukit Berbunga, Anggrek Bulan. Ternyata kami sama-sama menyukai lagu jadul. Fix lah kami ini adalah bocah SMP tapi doyan nyetel lagu emak-emak. Lalu Saprapti mengajak ke PAI (Pantai Alam Indah) naik sepeda. Ternyata setelah mengenal pribadi Saprapti, dia ini adalah anak SMP yang berfikir dewasa, penuh tanggung jawab dan pemberani. Kehidupan pribadinya menempa dia untuk menjadi sosok yang tangguh. Cara berfikirnya di atas kami, pandangannya melebihi kami, saat membahas sesuatu, dia lebih bijak. Saya seperti sedang berdiskusi dengan anak SMA, bukan anak SMP. Barangkali Saprapti ini dewasa sebelum waktunya.
Saprapti yang misterius telah menularkan keberaniannya kepada, saya berani mengurus segala sesuatu sendirian, berani menghadap petugas kelurahan atau kecamatan, saya berani belanja sayur mayur, kebutuhan rumah tangga dengan percaya diri di pasar, saya menjadi berani ke tempat-tempat jauh menggunakan sepeda. Sebelum itu saya selalu mengandalkan angkutan umum yang sangat tidak efisien dari segi waktu maupun biaya. Angkutan umum di daerah saya sangat jarang, sehingga menggunakan sepeda jauh lebih simple. Walaupun secara style anak muda, pakai sepeda itu sangat tidak kece, gak fancy. Banyak yang gengsi. Tapi berkat mengenal Saprapti, saya pede bersepeda. Bahkan sampai tingkat SMK pun saya lebih sering bersepeda, kemana-mana bersepeda, ke sekolah yang jauh dan panas-panasan bersepeda, berangkat Bhayangkara ke Polresta Tegal yang jaraknya 10 km pun bersepeda. Selain membuat betis saya mokol dan macho macam tukang becak, bersepeda adalah bentuk penerimaan saya pada kenyataan, pada keadaan dan kemampuan saya apa adanya, pada kesederhaan, pada ketiadaan, pada keterbatasan ekonomi yang harus tetap kita syukuri.
Dan mungkin saya juga telah menjadi objek training Saprapti untuk bisa bergaul dengan dunia SMP. Saya pernah mengutarakan pendapat saya kepadanya yang seperti invisible human itu. Dia ketawa tawa karena selama ini tidak menyadari bahwa dirinya berpenampilan horror,  terlalu datar dan kaku, tidak dikenal sekitar. Secara perlahan saya menyaksikan perkembagan Saprapti. Akhirnya dia banyak ngobrol dengan banyak teman. Teman-temanpun bisa menerimanya sebagai orang yang asik. Saprapti suka bercanda juga tawanya renyah. Soal penampilan? Wah tepuk tanganlah kita. Ternyata selama ini Saprapti berpenampilan seperti Sadako bukan karena tidak bisa dandan, tapi karena tidak minat memperhatikan penampilan. Ternyata dia bisa menata rambutnya dengan indah dan mudah. Kadang di model begini, kadang begitu, kadang dijepit sedikit, sehingga dia terlihat lebih fresh dan cantik. Saya adalah saksi, saya adalah pengamat, saya menyaksikan dan mengamati perubahan Saprapti jadi lebih baik sebelum akhirnya kita naik kelas 3 dan pisah di kelas.

Imelda Gunawan
Saat SMP mental saya sudah mulai berubah, tidak terlalu minder seperti jaman SD. Di SMP saya pernah dikirim pihak sekolah untuk mengikuti lomba catur tingkat Porda. Catur adalah permainan yang memakan waktu sangat lama karena panitia tidak memberi batasan waktu. Apalagi di lomba ini terdiri 7 babak tanpa sistem gugur, yang artinya saya harus bertanding catur 7 kali dengan 7 orang yang berbeda dan dari berbagai tingkatan. Dari mulai bocah SD, abege SMP, sampai remaja SMA. Pertandingan paling sengit adalah saat saya melawan pelajar SMA. SMP melawan SMA. Beda tingkatan tapi cukup imbang saat pertempuran. Kami bantai-bantaian saling serang. Kami dikerubungi bapak-bapak, disaksikan orang-orang dewasa, menjadi perhatian para peserta karena saat itu adalah pertandingan yang cukup alot. Setelah berjam-jam berduel, saya kalah.
Tapi lupakan kekalahan saya, mari kita bahas setting dari lomba tersebut. Porda catur tingkat Kota Tegal itu dilaksanakan di aula SMA PIUS, sebuah ruangan yang sangat besar dan cukup mewah. Persis di tengah-tengah dinding terpampang gambar seorang laki-laki yang tergantung pada salib. Menurut saya PIUS adalah pusatnya fasilitas etnis Cina di Kota Tegal. Ada SD, SMP, SMA dan SMK PIUS semua berada di kawasan itu, di Jalan Kapten Ismail Kota Tegal, lengkap dengan gereja-gerejanya. Maka di sela-sela lomba yang 7 babak itu saya masih sempatkan berkeliling ke sekitar, melihat-lihat fasilitas sekolah yang mereka miliki dan juga ngobrol-ngobrol dengan peserta lainnya.
Adalah Imelda Gunawan, seorang bocah cilik Cina anak orang kaya. Dia salah satu peserta lomba yang juga terlibat obrolan santai bersama kami. Salah seorang diantara kami bertanya kepadanya, :
“Mel, itu siapa?” sambil melirik ke arah salib.
Dengan santainya dan bernada layaknya anak-anak, Imelda menjawab, “Ye..sus”
“Yesus punya anak gak?”
“Punya”
“Namanya siapa?”
“Yo..sep”
Obrolan-obrolan ringan di kegiatan porda catur itu telah memberi saya pelajaran praktek tentang toleransi umat beragama. Itulah interaksi pertama saya dengan orang yang agamanya bukan Islam. Kami ngobrol santai tanpa canggung tanpa kenal perbedaan, diantara kami ada yang SD, SMP, SMA, Cina, Jawa, ireng, putih, kota, desa, wetan, kulon, Islam, Katolik, Prostestan, rambut lurus, rambut keriting, kaya ataupun miskin. Berinteraksi dengan Imelda dan melihat langsung keluarganya saat menjemput Imelda menggunakan mobil mewah tidak membuat saya minder seperti jaman SD. Kepolosan Imelda membuat saya menyadari bahwa agama dan kekayaan tidak lantas membuat kita pilah-pilih teman.

Masa SMK
Saya bersekolah di SMK Negeri 2 Kota Tegal. Di SMK pertemanan saya menjadi lebih luas, tidak hanya dari daerah Kecamatan Margadana saja, tapi dari seluruh daerah di Kota Tegal, Kabupaten Tegal, bahkan ada yang dari luar Tegal. Dulu di SMP saya sering diusir Pak Darmo (penjaga sekolah) supaya pulang. Saya sering tidak langsung pulang ke rumah setelah pelajaran usai. Saya tetap berada di sekolah sampai sekitaran jam 3 sore atau sampai Pak Darmo mengusir saya. Sekolah SMP saya tidak memiliki kegiatan ekstrakulikuler yang aktif. Pramuka, PMR atau Drumband, angot-angotan (hanya aktif kadang-kadang), satu-satunya yang paling aktif adalah eskul karate tapi bayar. Jadilah saya tidak punya kegiatan. Saya cuma duduk-duduk, baca-baca atau ngobrol dengan Saprapti di sekolah, sampai kami diusir Pak Darmo. Saya tidak ingin berlama-lama di rumah karena saya merasa riskan dan tidak nyaman saat berada di rumah. Rumah saya dianggap angker, lantaran dua kakak perempuan saya sakit jiwa. Ada yang bilang katanya almarhum emak saya pun pernah sakit jiwa. Orang-orang kolot di kampung sayapun menggadang-gadang saya sebagai calon atau kandidat gila karena semua keturunan perempuan di keluarga saya gila saat menginjak usia remaja. Yang tidak sakit jiwa cuma satu yaitu kakak saya yang nomor 3 karena semenjak remaja dia tinggal di Jakarta. Saya ingat betul, ada seorang ibu-ibu yang bilang :
“Kaeh deleng bae Nila, engko be bakale edan” Artinya : Itu lihat saja Nila, nanti juga dia bakalan gila.
Saking santernya gossip bahwa rumah saya angker sampai-sampai ada orang-orang yang tidak pernah mau minum saat bertamu di rumah kami, padahal air yang kami gunakan untuk konsumsi adalah beli dari PAM, bukan dari sumur kami. Tapi tidak semua orang berfikiran ­kolot macam ibu-ibu tadi. Banyak juga yang menyikapinya dengan positif dan hanya menasehati saya supaya rajin sholat, ngaji, jangan banyak melamun di rumah, sering-sering saja main ke tetangga.
Berlatar belakang keadaan rumah saya yang seperti itu maka saya bertekad untuk menyibukkan diri di luar rumah. Kalau di SMP saya tidak bisa aktif di kegiatan esktrakulikuler ataupun organisasi sekolah, di SMK kesempatan saya untuk aktif organisasi terbuka lebar. Saya ikut Pramuka di sekolah, Saka Bhayangkara di Polresta Tegal, bekerjasama dengan ke DKR Tegal Timur, dan sering terlibat dengan DKC Kota Tegal. Bahkan walaupun saya tidak ikut mendaftar jadi pengurus OSIS, akhirnya saya didaulat juga penjadi pengurus OSIS untuk bidang Apresiasi Seni, lantaran ketua OSISnya adalah teman sekelas saya yang mungkin dia merekomendasikan saya karena dia menganggap saya memiliki kemampuan di bidang seni.
Dari kegiatan saya yang super banyak, keajaiban seperti menghampiri. Saya dipertemukan lagi dengan tokoh-tokoh lama.
Di sekolah saya terpilih sebagai pradana putri, maka saya dikirim ke Kwarcab Kota Tegal untuk mengikuti kegiatan LPK (Latihan Pengembangan Kepemimpinan) selama 4 hari. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh sekolah negeri maupun swasta di Kota Tegal. Masing-masing sekolah mengirimkan 4 orang. Dari sekian banyak peserta, saya melihat satu peserta dari SMA N 1 yang sepertinya saya kenal. Saya ingat Icha, bocah SD yang pernah saya lihat saat SD. Tapi perempuan itu sekarang berbadan mungil sehingga saya kurang yakin. Namanya Rissa Maharani tapi panggilannya Icha juga. Wah! kali ini saya yakin bahwa dia memang Icha yang sama.  Di malam terakhir pendidikan dan penggojlogan itu, saya akhirnya memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Icha untuk memastikan. Ternyata memang benar bahwa Rissa Maharani adalah Icha yang pernah mengikuti lomba siswa teladan di kelas 5 SD dan pesta siaga di kelas 6. Mereka orang yang sama. Dari pertemuan di kegiatan LPK ini leburlah bayang-bayang ngeri saya terhadap bocah-bocah cilik yang bertindak macam ratu lebah. Icha adalah pribadi yang supel dan simple. Pramuka adalah buktinya karena kegiatan pramuka di kota kami umumnya diikuti oleh orang-orang yang tahan banting, tidak jaim, ramah tamah, dan berjiwa korsa, seperti di dasa darma, pramuka bangetlah pokoknya.
Selepas dari kegiatan LPK di Kwarcab, kami sering sekali bertemu di kegiatan lainnya. Hampir di semua kegiatan yang dilaksanakan tingkat Kota Tegal. Di uparaca akbar, di karnaval, di lomba paskibra yang diselenggarakan oleh TNI AL, lomba paskibra di Gor Wisanggeni, di seminar-seminar, di Pendidikan Bela Negara yang diadakan oleh Pemkot, kegiatan drama, kegiaatan pengamanan arus mudik lebaran, bahkan kami juga dipertemukan menjadi satu tim dari Kota Tegal yang berangkat ke Klaten–Jogya dan menjadi relawan di sana pasca gempa bumi 6 skala richter yang meluluh lantahkan daerah Jogja dan sekitarnya. Selama satu minggu kami tinggal di homestay yang sama, makan makanan yang sama, bekerja bersama, menyempatkan diri belanja bersama.
Hei Sodara, masih ingatkah kalian dengan Herlanda?
Setelah sekian tahun tidak bertemu, saya melihatnya lagi saat lomba paskibra di markas TNI AL Kota Tegal. Dia jadi komandan peleton dari SMA N 4. Kemunculannya menghebohkan kawan-kawan SMK saya yang notabene perempuan. Ternyata mereka dulunya teman SMP Herlanda, dan ternyata kawan dekat saya di kelas adalah garis keras pemuja Herlanda sejak SMP. Dan kawan saya di Saka Bhayangkara pun adalah penggemarnya. Damn it, apa Tegal begitu sempit? Satu pesona seorang laki-laki mampu mengubak-ubek sekitaran saya, ya di sekolah ya di Saka Bhayangkara.
Kagiatan saya semasa SMK banyak mempertemukan saya dengan banyak orang. Orang-orang itu mungkin tidak kenal dan tidak mengingat saya tapi saya masih ingat mereka. Selain Icha dan Herlanda, di masa itu masih ada beberapa orang lagi seperti Dita dari SMA 1 yang masih ingat karena saya sering melintas di depan rumahnya yang besar itu, Jalan Merbati No. 123. Ada Arya Pradipta anak kota yang kulitnya langung merah saat panas-panasan, ada Martha si kembar Cina dari SMA PIUS, Theodora Christiani dari SMK PIUS. Uniknya Theo ini beragama Islam dan berkulit Jawa. Ada pula Mbak Yayu, anak kuliahan yang menjadi pengurus DKC. Suaranya bagus macam penyiar-penyiar radio. Ternyata Mbak Yayu betulan seorang penyiar. Darinya saya mendapat contoh bahwa meskipun orang Tegal ngapak (medok) saat berbicara tapi kita mampu cepat berlatih menghilangkan dialek kedaerahan saat berbahasa Indonesia. Ada Nana Eres, seorang pelajar SMA 1 yang namanya selalu muncul di majalah pelajar KANDELA lewat karya-karyanya. Kami pun pernah berada pada kegiatan yang sama di acara Bengkel Sastra yang diadakan oleh Balai Diklat Semarang selama 2 hari. Dilatih bersama-sama oleh seorang pelawak yang pernah ngehits di acara API (Akademi Pelawak Indonesia). Kami pernah satu tim saat mendapat tugas untuk perform di acara penutupan.
Itulah mereka, teman-teman saya yang melintas di kehidupan saya saat saya SD sampai dengan SMK.
Sebagai tokoh penutup, mari saya sebutkan satu nama lagi.
Adalah Gemilang Roberto.
Orang yang tidak saya kenal, dan diapun tidak mengenal saya. Kami tidak pernah bertemu atau melihat secara langsung. Saya hanya menemukan tulisannya di awal tahun 2016 secara tidak sengaja ketika saya googling. Melalui satu cerita pengalaman solo travellingnya, saya seperti me-recharge keberanian saya dan kembali melakukan hobby-hobby yang sempat saya abaikan.  Saya kembali melakukan hobby-hobby itu bukan karena mengikuti trend tapi karena saya bahagia saat melalukannya. I’m happy with my own.
Bagi saya masing-masing kita adalah peran utama, dan setiap kita adalah peran figuran di kehidupan orang lain. Peran figuran ada yang cuma numpang lewat, ada yang numpang lewat sambil memberi manfaat, dan ada yang stay lama hidup bersama-sama kita. Terserah kita mau seperti apa, yang jelas ada pertemuan ada perpisahan, setiap apa yang terjadi pasti memiliki alasan.                                 
Everything happens for a reason.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Do I love my job?

Do I love my job? Pekerjaan saya boleh dibilang lumayan prestisius. Saya seorang finance dan juga human resources di perusahaan ekspo...