Jumat, 07 April 2017

TOLONG...TOLONG...



Kamis, 6 April 2017
Jalan raya Pantura, Martoloyo, Panggung Timur, Kota Tegal.
Siang bolong, saya nangkring kebingungan di atas motor. Cekekek cekekek...berkali kali menghidupkan starter motor hasilnya nol. Mogok rupanya. Lalu saya bertanya pada tukang kerupuk yang lagi sibuk, : 
“Pak, yang jual bensin terdekat dimana?”. 

Motor saya kehabisan bensin. Kok bisa ya? Bawa motor, bensin kosong? Nanti deh saya cerita.
Si tukang kerupuk menunjukkan arah lurus ke barat terus nanti di belakang pos polisi belok ke kanan (utara). Kami berinteraksi. Macam tawar menawar, saya inginnya ke kiri. 
 “Kalau yang belok ke kiri aja gak ada pak?”
Saya nih aneh, nanya bensin dimana, sudah dijawab di sana kok malah maunya bensin di tempat lain. Saya malas belok kanan. Ya iyalah...malas. Secara ini jalur pantura, besaaarrr.... banyak kendaraan. Kalau belok ke kanan ke Jalan Flores berarti saya harus melewati perempatan lampu merah, yang untuk pejalan kaki saja susah nyebrangnya, apalagi saya yang nuntun kuda besi. Bakal diklakson-klakson bus dan container nanti. Belum lagi, letak bensin yang agak jauh masuk ke dalam di Jalan Flores.
“Ada sih, di depan pasar” 

Saya masih ragu juga, saya balik nangkring di atas motor, celingak-celinguk, berkali kali ngengok ke belakang, buka jok motor, buka tutup bensin, tutup lagi, distrarter lagi, cekekek-cekekek lagi, celingak-celinguk lagi. Haduuuhhh.... motor kehabisan bensin koq dipaksa? Dorong dong sana.
Kenapa saya ragu dan gak langsung pergi belok ke kiri? Karena saya sudah kenal daerah sini. Bensin di depan pasar itu gak ada. Atau mungkin ada tapi kadang gak jualan. Saya tanya ke orang untuk memastikan saja, mana tau ada tukang bensin yang lagi ngasoh di warung-warung makan di tepi-tepi jalan ini. Dan sebenarnya tujuan saya adalah mau lurus ke barat. Ke Jalan Yos Sudarso, ke Kantor Pos Pusat. Karena tadi bos saya menelfon dan menyuruh saya harus segera ke kantor pos sekarang juga. Ada dokumen yang perlu ditandatangani.

Readers, mari saya selingi sedikit informasi untuk pengetahuan kita. Saya bekerja di sebuah perusahaan export sudah lebih dari dua tahun. Sudah puluhan kali saya mengirim sample produk ke luar negeri via EMS. Barang yang saya kirim berupa coconut shell charcoal dianggap dangerous good, atau spontaneously combustible (mudah terbakar dengan sendirinya). Aslinya sih charcoal atau barang sejenisnya tidak akan terbakar sendiri kalau tidak disulut api. Singkatnya, pengiriman jenis charcoal ada prosedurnya. Saya sudah melengkapi prosedur itu sesuai peraturan yang ditetapkan, contohnya seperti melampirkan MSDS (Material Safety Data Sheet). Tapi setiap petugasnya ganti, biasanya saya menemui kendala. Kemarin sore saya mengirimkan sample produk ke Bahrain dan Iran. Tadi saya ditelfon katanya untuk pengiriman barang ke Iran saya harus menandatangani semacam letter of declarations yang menyatakan bahwa barang tersebut tidak berbahaya, namun apabila negara yang dituju menolak menerima barang tersebut maka saya harus nyatakan kesanggupan bahwa barang tersebut dilepaskan/dimusnahkan atau dikembalikan ke pengirim namun biaya ditanggung sendiri. Hadeehh... padahal saya sudah berkali kali kirim sample ke Iran. Kadang disuruh tanda tangan LD, kadang gak. Tergantung petugasnya lagi khilaf atau kagak. 

Balik lagi ke soal motor, itulah sebabnya saya sampai kehabisan bensin. Saya terburu-buru ke kantor pos mengejar waktu. Takutnya bentar lagi jam 12 siang barangkali mereka istirahat, dan saya harus menunggu satu jam lagi sampai petugasnya ready. Saya tahu, pagi tadi bensin motor saya tinggal sedikit, saya pikir cukup nanti sepulang kerja saja isi bensinnya. Ternyata saya salah prediksi karena tadi sebelum saya pergi, motor saya sempat dipinjam orang pabrik untuk beli perlengkapan. Motor saya sudah jadi motor sejuta umat. Di tempat kerja, ataupun di rumah, sering dipakai siapa saja. Jadi, isi bensin kadang luput dari perhatian saya. Suka lupa. Tapi bukan karena lupa dan kurang perhatian ke motor aja ding, kadang-kadang kalau lagi bokek, urusan isi tangki gak bisa dipenuhi.Hihi...
Akhirnya motor itu saya tuntun. Secara nuntun motor di jalan pantura, maka jadi nontonan lah saya. Apalagi pas nyampe perempatan lampu merah, yang lain berhenti keren macam Dani Pedrosa, saya berhenti samping motor macam atlet menuntun kuda. 

Dari perempatan, saya belok kiri (selatan) ke arah Pasar Martoloyo. Jalannya ngoyo karena ada sedikit turunan, jadi saya perlu menjaga keseimbangan, antara kecepatan kaki dan kekuatan mengendalikan rem tangan. Saya strong kan?
Pasar Martoloyo, sampah menumpuk di pinggir jalan. Apeslah saya, tukang bensin gak jualan. Gerobaknya sepi gak ada orang. Tuhan, plis... ini jauh dari pertamina, bensin eceran pun tak ada.  
Saya berhenti di depan pasar, di bawah pohon rindang, lalu mengedarkan pandangan mencoba mencari pertolongan. Ada bapak-bapak yang lagi duduk depan warteg sambil liatin saya. Motor saya kunci, lalu bapak-bapak itu saya hampiri.
Kami berdialog, lalu ada satu bapak lagi yang sepertinya pemilik warteg menghampiri. Mereka cuma menunjukkan letak penjual bensin dimana. Dalam hati, saya sudah tahu pak, kalau ke selatan letaknya agak jauh sekitar 400-500 meteran. Putar balik lagi ke arah kanan, ke belakang pos polisi bukan pilihan ideal.
Lalu saya menawarkan sebuah jaminan.
“Pak, iki motor tak tinggal, saya tolong dipinjemin sepeda atau apa supaya bisa beli bensin”.
Saya ingat, dulu ada saudara yang kepepet butuh uang untuk ambil hp yang dia jaminkan ke penjual bensin di daerah Mejasem. Katanya dia kehabisan bensin, gak bawa duit, tapi gak boleh ngutang, jadi sebagai jaminan hp nya dia tinggalkan di tukang bensin daerah Mejasem.
Guys... harga bensin seliter hanya sekitar 8000 rupiah, harga hp saudara saya walaupun hp biasa jelas di atas harga itu. Tapi di jaman sekarang, sebuah permintaan pertolonganpun butuh jaminan. Barangkali kita sudah semakin parno saja melihat contoh modus kejahatan yang tersiar di tipi-tipi, social media, atau kejadian yang menimpa di sekitar kita, jadi kewaspadaan itu perlu. Tapi saudara, sejujurnya saya prihatin. Seliter bensin dijaminkan dengan hp yang “hanya” seharga ratusan ribu atau motor Honda yang “hanya” belasan juta.
Nasib baik belum menghampiri saya. Si bapak itu masuk ke dalam warung, ngobrol sebentar dengan ibu warung, terus malah ngobrol santai berdua sesama bapak-bapak. Terlihat sepertinya mereka tak berminat. Barangkali motor saya tidak menggiurkan ya, saudara?
Kalau saya langsung nyelonong pergi jelas gak sopan, akhirnya saya bertanya lagi untuk memastikan :
Pripun, pak?”
Mau nutup sih mbak, warungnya”
“Oh, nggeh mpun pak, mboten nopo-nopo. Suwun”
Saya pergi. Satupun diantara mereka tidak ada yang bisa menolong. 

Saya mencoba nyetarter motor lagi, tetap gak bisa. Saya clingak-clinguk lagi. Kendaraan bersliweran silih berganti. Duh, koq gak ada orang pabrik (dari tempat saya kerja) yang lewat sini, ini kan jam istirahat, biasanya mereka ada yang pulang atau cari makan lewat sini.
Dalam keadaan seperti ini saya menyesal kenapa hp ditingal di kantor. Kalau ada handphone kan saya bisa minta tolong orang pabrik untuk nyusulin saya dan mengantarkan bensin. Haduh mak, saya jadi baper. 
Kalau harus ndorong motor ke arah selatan, saya harus kuat-kuat jalan. Saya tahu betul jaraknya masih jauh, apalagi lihat tanjakan aduhai... perlintasan KA. Telan ludah saja, saya lagi puasa.

Maka moment berikutnya adalah saya melambai-lambaikan tangan ke orang yang lewat. Gak langsung berhasil. Ada yang cuma ngelirik, tidak menghentikan laju motornya. Sungguh saya berasa lagi di acara social experiment yang sering diupload-upload di youtube atau di acara Tolong yang pernah kondang di tipi swasta.
Akhirnya saya mendapat pertolongan dari mas-mas setengah baya. Saya kasih dia uang untuk minta tolong dibelikan bensin dan saya menunggunya kembali membawakan bensin itu.  Akhirnya saya terselamatkan. Terimakasih, saudara....

Karena kejadian ini, pikiran saya berseliweran pada banyak hal:

Kita:

Kita adalah mahluk masa kini yang sangat hati-hati memberikan pertolongan pada orang yang tak dikenal.

Sosial experiment:

Acara ini muncul untuk menguji bagaimana respon masyarakat ketika ada orang tak dikenal meminta pertolongan. Karena acara ini pula, orang jadi ngarep kalau dia nolong orang : kali aja setelah itu tiba-tiba ada tim yang menghampiri bawa kamera, atau lebih untung lagi kalau ternyata dikasih hadiah semacam uang kaget jutaan rupiah. Tapi ada yang menyalah gunakan juga, acara macam ini malah dijadikan ide modus untuk melakukan kejahatan, pura-pura meminta pertolongan lalu kabur setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Eh tapi masih banyak ding orang baik yang mau nolong tanpa pamrih di sekitar kita. Contohnya seperti mas-mas yang nolongin saya, padahal dia lagi repot bawa barang-barang di motornya.

Saya:
Saya pernah mengomentari mengapa orang lebih suka menghubungi kawannya yang jauh melalui hp dan rela menunggunya berlama-lama dari pada meminta pertolongan langsung dari orang sekitar. Toh kita kan punya mulut, kenapa tidak meminta bantuan orang yang di sekitar kita saja? Ternyata seperti ini ya saudara.... Hehe....
Semoga kita bisa menjadi lebih baik ya.

Setelah motor saya bangkit dari mati surinya, saya putar balik kembali ke jalur yang benar, melanjutkan perjalanan. Oh, petugas pos... saya datang.
Sebelum pergi, saya melihat sebentar ke warteg depan pasar.
Selamat tinggal, warung yang mau nutup. Semoga setelah nutup kalian lebih lapang untuk menolong orang.

Do I love my job?

Do I love my job? Pekerjaan saya boleh dibilang lumayan prestisius. Saya seorang finance dan juga human resources di perusahaan ekspo...