Minggu, 25 Februari 2018

KETIKA BULE RUSIA TIDUR DI KAMAR SAYA



Sabtu, 2 Desember 2017, sekitar pukul 00.30 – 01.00 WIB

Mereka bertiga berambut pirang, berhidung macam elang, 1 laki-laki dan 2 perempuan. Si Laki-laki berbadan tinggi menjulang bernama Anton Vesnin dari Moscow, dan istrinya Kira Mei-Kha dari Novosibirsk. Serta Nadya Shchadilova dari St Petersburg yang tingginya cuma selisih sedikit dari tinggi badan saya tapi kekuatannya mampu membopong tas seberat kulkas. Sungguh tidak pernah menyangka sebelumnya, tengah malam ada manusia macam mereka duduk lesehan beralas karpet plastik di ruang tengah rumah saya. Mereka sedang menyantap nasi putih hanya dengan kecap dan saus tiram (duh kasian), minum teh poci dan cemilan buah-buahan. Entah apakah hanya basa basi sebagai penghormatan dan rasa terimakasih, Anton memuji bahwa nasinya sangat enak. Dalam hati saya bersyukur karena pada saat itu menurut saya memang nasinya enak, dan baru dimasak. Berasnyapun sudah naik kelas, dari kelas raskin (dulu saya selalu mendapat jatah raskin dari pemerintah) menjadi beras C4 yang belinya kudu ke hypermart. Namun, dalam hal ini saya sangat menyesal tak bisa menyajikan makanan yang lebih layak dan banyak. Ini gara-gara keribetan masalah perijinan yang sangat menyita perhatian.

Flashback ke beberapa jam sebelumnya.
Jum’at, 1 Desember 2017, 17.29 WIB.
Sebuah message panjang lebar masuk ke notice handphone saya yang intinya adalah permintaan tiga orang hitchhiker Rusia untuk menginap malam itu juga. Senang, kaget, bigung, pusing, grogi, takut, ragu, semua perasaan campur aduk yang malah menimbulkan rasa lapar disertai kemulesan. Yang membuat saya bingung dan pusing ada dua hal. Yang pertama adalah hari itu saya sedang sibuk-sibuknya karena bertepatan dengan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang akan diadakan di masjid. Letak rumah saya sangat dekat dengan masjid. Halaman depan rumah saya biasanya dimanfaatkan untuk parkiran, dan bagian belakang rumah dimanfaatkan untuk gelaran para jamaah pengajian. Ini adalah acara besar. Setiap warga diminta berpartisipasi untuk menyiapkan dihadangan, termasuk saya. Pada saat itu saya sedang tinggal seorang diri di rumah, sayapun menyiapkan segalanya sendirian. Lumayan repot memang. Pagi hari sampai dengan sore sebelum acara maulid dimulai pun saya membersihkan semua halaman rumah, mencabuti rumput, memangkas pohon putsa yang banyak durinya, membersihkan memotongi pelepah pohon pisang agar tak mengganggu pemandangan, membopong dahan pisang (pada saat seperti ini saya merasa gak kalah strong dari pada wonder woman) menyapu dan mengepel semua lantai barangkali para santri atau panitia duduk-duduk di teras rumah sambil bertugas menjaga parkiran atau sekadar menunggu rombongan para kyai dan habib datang. Selepas maghrib saya tidak bisa kemana-mana karena harus memastikan hidangan yang sudah saya siapkan dijemput oleh panitia untuk dibawa ke masjid. Ba’da isya saya juga akan ikut serta mengunjungi acara maulid nabi ke masjid. Intinya saya tidak punya waktu dan tidak ada persiapan menyambut tamu dari Rusia.
Hal kedua yang membuat saya bingung yaitu 3 hari sebelum ini saya sudah mendapat masalah saat “digrebek” warga karena kesalahpahaman. Atau lebih tepatnya adalah tindakan preventif yang berlebihan oleh manusia yang mungkin niatnya ingin memainkan perannya sebagai ketua organisasi masyarakat yang bertanggung jawab. Tapi di mata saya, apa yang dilakukannya itu berbalik nilainya menjadi negatif karena tidak didasari penyelidikan atau pengamatan yang benar. Tindakan yang terlalu prematur, melaporkan saya tanpa mencari tahu faktanya. Saya dilaporkan karena dianggap sering “dikunjungi lelaki”. Ujung-ujungnya mereka juga yang malu karena tuduhannya tidak terbukti. Meskipun begitu saya harus lebih berhati-hati, agar tidak ada lagi kesalahpahaman atau tuduhan konyol yang menggelikan.
Dua alasan tadi yang membuat saya agak ragu untuk menerima tamu. Namun, ini adalah kali pertama ada bule mau datang ke rumah saya. Didasari rasa penasaran, kebutuhan akan pengalaman dan ilmu baru, serta rasa empati pada para hitchhiker, traveller ataupun backpacker akhirnya request to stay itu saya terima. I’m not rich but I love travelling, so I want to make travelling easy for people. Itu tekad saya. Seperti setiap kali saya sedang jalan lalu melihat ada orang-orang nggendong carrier segede Gaban Sariban, pengin sekali saya kasih dia tumpangan.
Tibalah acara maulid nabi, warga berbondong-bondong mengunjungi masjid. Sambil terus WA-nan dengan bule Rusia saya ikut serta ke masjid. Ini juga kesempatan saya untuk bertemu dengan perangkat desa supaya nanti sekalian lapor bahwa akan ada tamu dari Rusia yang mau menginap di rumah saya. Tebakan saya, pasti Pak RT dan Pak RW ada di masjid. Tapi sudah pasti saya tidak bisa menemui mereka karena jama’ah laki-laki dan perempuan dipisah. Akhirnya saya menemui Bu RW. Tidak terlihat senang mendengar laporan saya, namun Bu RW cukup bijak dengan mengatakan bahwa beliau tidak dapat memberi keputusan, saya tetap harus melapor pada Pak RT dan pak RW. Pukul 22.29 WIB si bule tahu-tahu sudah ada di depan rumah. Akhirnya acara di masjid saya tinggalkan.
Ternyata mendapatkan ijin agar tamu saya bisa menginap itu tidak mudah, apalagi dadakan seperti ini. Saya bolak balik mencari Pak RT tapi setelah ditemui pak RTnya malah memperlihatkan wajah yang kurang menyenangkan sampai tamu saya merasa unwelcomed. Setelah selesai dari rumah Pak RT, ternyata Pak RT kembali menyambangi rumah saya mengajak Pak Polisi. Tidak cukup sampai di situ, tengah malam sekitar jam 12an (bubar acara mauludan), Pak RW, Pak Polisi, Pak Lurah dan beberapa tokoh masyarakat lainnya mendatangi rumah saya. Hampir saja tamu saya tidak diijinkan menginap di rumah. Ada yang keberatan tapi tidak memberi solusi. Sudah saya tawarkan, barangkali ada yang tidak percaya atau khawatir ada apa-apa, tolong temani saya menginap di rumah. Para ibu, para mbak-mbak, ataupun siapa saja yang bisa dipercaya, tapi tidak ada yang berani menemani saya menginap di rumah dan menemani bule Rusia. Saya pasrah namun kecewa. Bisa saja saya memesankan hotel untuk tamu-tamu saya, tapi melarang tamu-tamu saya sama saja seperti mempermalukan saya di depan mereka, sama saja warga tidak mempercayai saya, sama saja merusak kesan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah-tamah dan welcome.
Itulah keribetan saya saat ada bule Rusia menginap di rumah saya. Rupanya kampung tempat saya tinggal belum siap pada perkembangan. Harus saya pahami dan maklumi bahwa inilah pertama kalinya kampung saya kedatangan tamu WNA. Wajar apabila perangkat desa belum terbiasa. Mereka hanya  bersikap hati-hati demi menjaga keamanan warga dan kampungnya. 
Akhirnya... setelah diskusi panjang lebar sampai jam setengah 1 malam, para bule Rusia diijinkan menginap di rumah saya. Itulah mengapa tengah malam mereka baru makan, cuma dengan nasi putih pulak!. 
Risiko hidup di kota pinggiran, susah cari makanan tengah malam. Order Go-food pun tak ada drivernya.


Saya dan Nadya Shchadilova.
Kami sekamar. Sebelum tidur kami bercerita berbagi pengalaman sampai jam setengah 3 pagi. Nadya membagikan ceritanya selama hicthiking ke beberapa negara. Sayangnya Nadya kurang lancar berbahasa Inggris. Tapi bahasa tidak menjadikannya penghalang untuk bercerita, dengan gigihnya dia bercerita meski banyak menggunakan bahasa Rusia dan saya berusaha mati-matian mencarikan dan mentranslate kosa kata Inggrisnya. Tapi bahasa Inggris saya masih bego juga. Jadilah kami seperti Masha and the Bear. Dia yang jadi Mashanya, saya beruangnya. Masha bercerita sangat antusias seperti suara tawon yang terdengar berdengung dan berdesis di telinga, beruang cuma bisa mantuk-mantuk sampai ngantuk.
Dari situlah saya semakin merasa : “sumpah, belajar bahasa asing itu penting!”
Breakfast
menu ala kadarnya



Berpisah di SPBU MURI. Mereka lanjut ke Merbabu, saya nyebrang ke arengan, lanjut kerja, cari uang biar nanti iso
jalan-jalan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AKU KELANGAN

Map Jalan Gajah Mada Tegal, Via Google Satelit Banyak jalan dari rumah saya menuju ke tempat kerja. Hampir setiap berangkat kerja sa...